Kamis, 13 Oktober 2011
Penyu atau Kura-kura
![]() |
| Penyu atau Kura-Kura |
Penyu adalah kura-kura laut. Penyu ditemukan di semua samudra di dunia. Menurut data para ilmuwan, penyu sudah ada sejak akhir zaman Jura (145 - 208 juta tahun yang lalu) atau seusia dengan dinosaurus. Pada masa itu Archelon, yang berukuran panjang badan enam meter, dan Cimochelys telah berenang di laut purba seperti penyu masa kini.
Penyu memiliki sepasang tungkai depan yang berupa kaki pendayung yang memberinya ketangkasan berenang di dalam air. Walaupun seumur hidupnya berkelana di dalam air, sesekali hewan kelompok vertebrata, kelas reptilia itu tetap harus sesekali naik ke permukaan air untuk mengambil napas. Itu karena penyu bernapas dengan paru-paru. Penyu pada umumnya bermigrasi dengan jarak yang cukup jauh dengan waktu yang tidak terlalu lama. Jarak 3.000 kilometer dapat ditempuh 58 - 73 hari.
Masa Bertelur
Penyu mengalami siklus bertelur yang beragam, dari 2 - 8 tahun sekali. Sementara penyu jantan menghabiskan seluruh hidupnya di laut, betina sesekali mampir ke daratan untuk bertelur. Penyu betina menyukai pantai berpasir yang sepi dari manusia dan sumber bising dan cahaya sebagai tempat bertelur yang berjumlah ratusan itu, dalam lubang yang digali dengan sepasang tungkai belakangnya. Pada saat mendarat untuk bertelur, gangguan berupa cahaya ataupun suara dapat membuat penyu mengurungkan niatnya dan kembali ke laut.
Penyu yang menetas di perairan pantai Indonesia ada yang ditemukan di sekitar kepulauan Hawaii. Penyu diketahui tidak setia pada tempat kelahirannya.
Tidak banyak regenerasi yang dihasilkan seekor penyu. Dari ratusan butir telur yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina, paling banyak hanya belasan tukik (bayi penyu) yang berhasil sampai ke laut kembali dan tumbuh dewasa. Itu pun tidak memperhitungkan faktor perburuan oleh manusia dan pemangsa alaminya seperti kepiting, burung dan tikus di pantai, serta ikan-ikan besar begitu tukik tersebut menyentuh perairan dalam.
Di tempat-tempat yang populer sebagai tempat bertelur penyu biasanya sekarang dibangun stasiun penetasan untuk membantu meningkatkan tingkat kelulushidupan (survival). Di Indonesia misalnya terdapat stasiun penetasan di:
- Pantai selatan Jawa Barat (Pangumbahan, Cikepuh KSPL Chelonia UNAS)
- pantai selatan Bali (di dekat Kuta)
- Kalimantan Tengah (Sungai Cabang FNPF)
- pantai selatan Lombok
- Jawa Timur (Alas Purwo)
- Bengkulu (Retak ilir Muko-muko)
- Pulau Cangke Kabupaten Pangkep Prov. Sulawesi selatan
Jenis Penyu
Di dunia saat ini hanya ada tujuh jenis penyu yang masih bertahan, yaitu:
- Penyu hijau (Chelonia mydas)
- Penyu sisik (Eretmochelys imbricata)
- Penyu Kemp’s ridley (Lepidochelys kempi)
- Penyu lekang (Lepidochelys olivacea)
- Penyu belimbing (Dermochelys coriacea)
- Penyu pipih (Natator depressus)
- Penyu tempayan (Caretta caretta)
Dari ketujuh jenis ini, hanya penyu Kemp's ridley yang tidak pernah tercatat ditemukan di perairan Indonesia.
Dari jenis-jenis tersebut, penyu belimbing adalah yang terbesar dengan ukuran panjang badan mencapai 2,75 meter dan bobot 600 - 900 kilogram. Penyu lekang adalah yang terkecil, dengan bobot sekitar 50 kilogram. Namun demikin, jenis yang paling sering ditemukan adalah penyu hijau.
Penyu, terutama penyu hijau, adalah hewan pemakan tumbuhan yang sesekali memangsa beberapa hewan kecil.
Isu konservasi
Dalam laporan Conservation International (CI) yang diumumkan pada simposium tahunan ke-24 mengenai usaha pelestarian penyu di Kosta Rika disebutkan, banyaknya penyu belimbing turun dari sekitar 115.000 ekor betina dewasa menjadi kurang dari 3.000 ekor sejak tahun 1982. Penyu belimbing telah mengalami penurunan 97% dalam waktu 22 tahun terakhir. Selain itu, lima spesies penyu juga beresiko punah, meski tidak dalam jangka waktu yang singkat seperti penyu belimbing.
Hampir semua jenis penyu termasuk ke dalam daftar hewan yang dilindungi oleh undang-undang nasional maupun internasional karena dikhawatirkan akan punah disebabkan oleh jumlahnya makin sedikit. Di samping penyu belimbing, dua spesies lain, penyu Kemp’s Ridley dan penyu sisik juga diklasifikasikan sebagai sangat terancam punah oleh The World Conservation Union (IUCN). Penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang atau penyu abu-abu (Lepidochelys olivacea), dan penyu tempayan atau loggerhead (Caretta caretta) digolongkan sebagai terancam punah. Hanya penyu pipih (Natator depressus) yang diperkirakan tidak terancam.
Sebagian orang menganggap penyu adalah salah satu hewan laut yang memiliki banyak kelebihan. Selain tempurungnya yang menarik untuk cendramata, dagingnya yang lezat ditusuk jadi Sate penyu berkhasiat untuk obat dan ramuan kecantikan. Terutama di Tiongkok dan Bali, penyu menjadi bulan-bulanan ditangkap, disantap, tergusur dari pantai, telurnyapun diambil. Meski sudah ada Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pelestarian Jenis Tumbuhan dan Satwa, yang melindungi semua jenis penyu, perburuan terhadap hewan yang berjalan lamban ini terus berlanjut. Untuk mencegah kepunahan penyu, terutama penyu belimbing, beberapa negara telah melindungi tempat bertelur penyu. Salah satunya adalah di Jamursba Medi, yang terletak di pantai utara Irian. Pantai itu baru-baru ini ditetapkan sebagai wilayah konservasi.
Sumber : Wikipedia
Panda (Ailuropoda melanoleuca)
![]() |
| Panda (Ailuropoda melanoleuca) |
Panda Besar (Hanzi: 貓熊;; pinyin: mao xiong), Ailuropoda melanoleuca
("Kaki-kucing hitam-putih") atau diringkas Panda, adalah seekor mamalia
yang biasanya diklasifikasikan ke dalam keluarga beruang, Ursidae, yang
hewan asli Tiongkok tengah. Panda Besar tinggal di wilayah pegunungan,
seperti Sichuan dan Tibet. Pada setengah abad ke-20 terakhir, panda
menjadi semacam lambang negara Tiongkok, dan sekarang ditampilkan pada
uang emas negara tersebut.
Nama China-nya berarti "kucing-beruang," dan juga bisa dibaca dibalik tanpa mengubah arti. Ia dinamai panda di Barat karena mirip dengan Panda Merah, dan dulunya dikenal sebagai Beruang Belang (Ailuropus melanoleucus).
Meskipun secara taksonomis ia adalah karnivora, makanannya seperti herbivora, sebagian besar tumbuh-tumbuhan, hampir hanya bambu saja. Secara teknis, seperti banyak hewan, panda adalah omnivora (Bisa disebut Karnivora, Omnivora, Herbivora), karena diketahui mereka juga makan telur, dan juga serangga selain bambu. Kedua makanan ini adalah sumber protein yang diperlukan. Telinganya bergerak-gerak saat mereka mengunyah.
Panda Besar juga masih bersaudara dengan Panda Merah, tetapi mereka dinamai mirip sepertinya akrena kebiasaan mereka memakan bambu. Sebelum hubungannya dengan Panda Merah ditemukan pada tahun 1901, Panda Besar dikenal sebagai beruang berwarna dua.
Selama puluhan tahun, klasifikasi taksonomi panda yang tepat diperdebatkan karena baik Panda Besar maupun Panda Merah memiliki ciri-ciri seperti beruang dan rakun. Namun, pengujian genetika mengungkapkan bahwa Panda Besar adalah beruang sejati dan termasuk keluarga Ursidae. Saudara terdekatnya dalam keluarga beruang adalah Beruang Berkacamata di Amerika Selatan. Sekarang masih diperdebatkan apakah Panda Merah termasuk keluarga Ursidaea tau keluarga rakut, Procyonidae.
Panda Besar termasuk spesies terancam punah, terancam oleh kehilangan habitat dan tingkat kelahiran sangat rendah, baik di alam maupun di kandang. Sekitar 1.600 diyakini masih hidup di alam. Panda Besar adalah lambang World Wildlife Fund (WWF), organisasi pelestarian alam.
Panda Besar memiliki cakar yang ganjil, dengan "jempol" dan lima jari; "jempol" ini sebenarnya tulang-pergelangan tangan yang termodifikasi. Stephen Jay Gould menulis esai tentang topik ini, lalu menggunakan judul The Panda's Thumb untuk buku kumpulan esainya.
Panda Besar pertama kali dikenal di dunia Barat pada 1869 oleh misionaris Perancis Armand David (1826–1900). Panda Besar lama menjadi hewan favorit masyarakat, sebagian karena spesies ini lucu seperti bayi, mirip dengan boneka beruang hidup. Panda juga sering digambarkan sedang berbaring santai sambil makan bambu, bukan berburu, sehingga meningkatlah citranya sebagai hewan manis dan cinta damai.
Peminjaman panda besar ke kebun binatang Amerika Serikat dan Jepang merupakan bagian penting diplomasi Republik Rakyat Cina pada tahun 1970-an karena peminjaman ini menandai sebagian pertukaran budaya pertama antara Tiongkok dan dunia Barat.
Namun, pada tahun 1984, panda sudah tidak lagi digunakan sebagai alat diplomasi. Alih-alih, China mulai menawarkan panda kepada negara-negara lain untuk peminjaman hanya sepuluh tahun. Ketentuan peminjaman standar mencakup tarif hingga US$1.000.000 per tahun dan syarat bahwa anak yang lahir semasa peminjaman adalah milik Republik Rakyat China.
Pada 1998 akibat tuntutan hukum oleh WWF, U.S. Fish and Wildlife Service mengharuskan kebun binatang AS yang ingin mengimpor panda agar memastikan bahwa setengah tarif yang dipasang China disalurkan untuk upaya pelestarian panda liar dan habitatnya, barulah lembaga tersebut mau mengeluarkan izin pengimporan panda tersebut.
Nama China-nya berarti "kucing-beruang," dan juga bisa dibaca dibalik tanpa mengubah arti. Ia dinamai panda di Barat karena mirip dengan Panda Merah, dan dulunya dikenal sebagai Beruang Belang (Ailuropus melanoleucus).
Meskipun secara taksonomis ia adalah karnivora, makanannya seperti herbivora, sebagian besar tumbuh-tumbuhan, hampir hanya bambu saja. Secara teknis, seperti banyak hewan, panda adalah omnivora (Bisa disebut Karnivora, Omnivora, Herbivora), karena diketahui mereka juga makan telur, dan juga serangga selain bambu. Kedua makanan ini adalah sumber protein yang diperlukan. Telinganya bergerak-gerak saat mereka mengunyah.
Panda Besar juga masih bersaudara dengan Panda Merah, tetapi mereka dinamai mirip sepertinya akrena kebiasaan mereka memakan bambu. Sebelum hubungannya dengan Panda Merah ditemukan pada tahun 1901, Panda Besar dikenal sebagai beruang berwarna dua.
Selama puluhan tahun, klasifikasi taksonomi panda yang tepat diperdebatkan karena baik Panda Besar maupun Panda Merah memiliki ciri-ciri seperti beruang dan rakun. Namun, pengujian genetika mengungkapkan bahwa Panda Besar adalah beruang sejati dan termasuk keluarga Ursidae. Saudara terdekatnya dalam keluarga beruang adalah Beruang Berkacamata di Amerika Selatan. Sekarang masih diperdebatkan apakah Panda Merah termasuk keluarga Ursidaea tau keluarga rakut, Procyonidae.
Panda Besar termasuk spesies terancam punah, terancam oleh kehilangan habitat dan tingkat kelahiran sangat rendah, baik di alam maupun di kandang. Sekitar 1.600 diyakini masih hidup di alam. Panda Besar adalah lambang World Wildlife Fund (WWF), organisasi pelestarian alam.
Panda Besar memiliki cakar yang ganjil, dengan "jempol" dan lima jari; "jempol" ini sebenarnya tulang-pergelangan tangan yang termodifikasi. Stephen Jay Gould menulis esai tentang topik ini, lalu menggunakan judul The Panda's Thumb untuk buku kumpulan esainya.
Panda Besar pertama kali dikenal di dunia Barat pada 1869 oleh misionaris Perancis Armand David (1826–1900). Panda Besar lama menjadi hewan favorit masyarakat, sebagian karena spesies ini lucu seperti bayi, mirip dengan boneka beruang hidup. Panda juga sering digambarkan sedang berbaring santai sambil makan bambu, bukan berburu, sehingga meningkatlah citranya sebagai hewan manis dan cinta damai.
Peminjaman panda besar ke kebun binatang Amerika Serikat dan Jepang merupakan bagian penting diplomasi Republik Rakyat Cina pada tahun 1970-an karena peminjaman ini menandai sebagian pertukaran budaya pertama antara Tiongkok dan dunia Barat.
Namun, pada tahun 1984, panda sudah tidak lagi digunakan sebagai alat diplomasi. Alih-alih, China mulai menawarkan panda kepada negara-negara lain untuk peminjaman hanya sepuluh tahun. Ketentuan peminjaman standar mencakup tarif hingga US$1.000.000 per tahun dan syarat bahwa anak yang lahir semasa peminjaman adalah milik Republik Rakyat China.
Pada 1998 akibat tuntutan hukum oleh WWF, U.S. Fish and Wildlife Service mengharuskan kebun binatang AS yang ingin mengimpor panda agar memastikan bahwa setengah tarif yang dipasang China disalurkan untuk upaya pelestarian panda liar dan habitatnya, barulah lembaga tersebut mau mengeluarkan izin pengimporan panda tersebut.
Sumber : Wikipedia
Kamis, 06 Oktober 2011
Sunset
Sunset
Bagi sebagian orang adalah hal yang sangat istimimewa, dan mereka tak mau melewatinya begitu saja.Sunset
Bagi sebagian orang adalah hal yang sangat istimimewa, dan mereka tak mau melewatinya begitu saja.Sunset
Bagi sebagian orang adalah hal yang sangat istimimewa, dan mereka tak mau melewatinya begitu saja.Sunset
Bagi sebagian orang adalah hal yang sangat istimimewa, dan mereka tak mau melewatinya begitu saja.Sunset
Bagi sebagian orang adalah hal yang sangat istimimewa, dan mereka tak mau melewatinya begitu saja.Sunset
Bagi sebagian orang adalah hal yang sangat istimimewa, dan mereka tak mau melewatinya begitu saja.Sunset
Bagi sebagian orang adalah hal yang sangat istimimewa, dan mereka tak mau melewatinya begitu saja.Sunset
Bagi sebagian orang adalah hal yang sangat istimimewa, dan mereka tak mau melewatinya begitu saja.Sunset
Bagi sebagian orang adalah hal yang sangat istimimewa, dan mereka tak mau melewatinya begitu saja.Sunset
Bagi sebagian orang adalah hal yang sangat istimimewa, dan mereka tak mau melewatinya begitu saja.Sunset
Bagi sebagian orang adalah hal yang sangat istimimewa, dan mereka tak mau melewatinya begitu saja.BMKG Memprediksi Musim Hujan Normal
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi musim hujan
tahun 2011-2012 berlangsung normal meski musim hujan di banyak wilayah
mundur hingga Desember 2011. Zona musim yang dipantau saat ini
ditingkatkan dari semula 220 zona menjadi 342 zona.
"Dari 342 zona
musim, masih ada 65 zona musim lain yang belum dapat dipastikan masa
perubahan musimnya," kata Kepala Pusat Iklim Agroklimat dan Iklim
Maritim pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)
Nurhayati, Selasa (13/9/2011), di Jakarta.
Menurut Nurhayati,
penentuan zona musim yang bertambah, seperti di wilayah sekitar Bogor,
Jawa Barat, terjadi penambahan zona, berarti ada penyempitan zona musim
sebelumnya. Begitu pula di wilayah Cilacap, Jawa Tengah, ada perubahan
yang semula nonzona musim menjadi zona musim.
Pada periode musim
hujan saat ini, 131 zona musim diprediksi BMKG memasuki musim hujan pada
Oktober. Sebanyak 121 zona musim memasuki musim hujan pada November.
Sebelumnya, pada Agustus, 9 zona musim sudah memasuki musim hujan, dan
pada September, 29 zona musim memasuki musim hujan, semuanya berada di
Sumatera.
"Prakiraan ini dibandingkan data 30 tahun periode
1981-2010 dengan hasil 213 zona memasuki musim hujan dengan rata-rata
waktu yang sama, 87 zona musim mundur, dan 42 zona musim maju," kata
Nurhayati.
Wilayah yang memasuki musim hujan pada Desember,
diprediksi terjadi di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan
Papua. Seluruh wilayah Sumatera dan Kalimantan diprediksi memasuki musim
hujan pada November nanti.
Beberapa wilayah di Jawa yang
mengalami musim hujan mundur hingga Desember meliputi pesisir Tangerang
dan Bekasi, Karawang bagian utara, Indramayu bagian utara. Di Jawa Timur
meliputi sebagian Lamongan, Sidoarjo bagian timur, bagian utara
Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, dan Bondowoso. Kemudian Banyuwangi
bagian timur dan Madura bagian selatan.
Wilayah lain di Bali dan
Nusa Tenggara mencakup pesisir barat Bali bagian utara, bagian selatan
Gianyar, Klungkung, dan Nusa Penida. Sebagian Lombok Timur bagian utara,
Dompu, dan Bima bagian timur, Manggarai bagian barat, pesisir selatan
Manggarai dan Ngada.
Sebagian besar Flores Timur, Kepulauan Alor,
Sumba bagian utara, bagian selatan Timor Tengah Selatan, dan Belu,
diprediksi mengalami hal serupa. Sulawesi mencakup Bantaeng bagian
barat, Bulukumba, Bone bagian tengah, Rumbia, Konawe bagian selatan, dan
Buton.
Di Maluku dan Papua mencakup Kepulauan Sula, Buru bagian utara, Geser, Maluku Tenggara bagian selatan, dan Merauke.
Sumber : Kompas.com
Satu-satunya Taksonom Kelomang di Indonesia
Diposting oleh
Anak Pantai
di
Kamis, Oktober 06, 2011
Label:
Fauna,
Kelomang,
Serangga,
Taksonomi
0
komentar
| Dr Dwi Listyo Rahayu |
Indonesia hanya punya segelintir taksonom. Salah satu di antaranya adalah Dr Dwi Listyo Rahayu, Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Ia mungkin salah satu taksonom langka karena di dunia saat ini hanya ada 5 taksonom kelomang (hermit crab) atau biasa disebut umang-umang, pong-pongan, atau kepompong. Ia memulai aktif meneliti kelomang pada tahun 1987, menyelesaikan studi master dan doktoral di Perancis dalam bidang biologi kelautan.
Beberapa waktu lalu, dalam acara Kongres dan Seminar Taksonomi Kelautan Indonesia I, Kompas.com sempat berbincang dengannya. Beberapa pertanyaan seputar perjalanan sebagai taksonom kelomang, penemuan yang telah dihasilkan hingga kehidupan pribadi sebagai seorang taksonom sempat dibicarakan. Berikut petikan wawancara Kompas.com.
Bagaimana awalnya bisa tertarik menekuni taksonomi kelomang?
Saya mulai meneliti tahun 1987. Kebetulan saya dulu ikut meneliti dengan profesor saya. Saya melihat kerja yang tekun dan saya suka itu. Lalu secara kebetulan saya mendapat beasiswa di Perancis. Di sana, saya pergi ke museum dimana profesor saya dulu ambil studi untuk disertasinya. Waktu itu saya mau taksonomi udang, tapi di sana ternyata enggak ada. Lalu saya ditawari untuk mempelajari kelomang.
Saya pikir waktu itu, apa sih bagusnya kelomang, apa gunanya. Lalu saya diberi kelomang yang masih fresh dan saya lihat, it's not bad. Cantik juga. Saya lalu mulai lihat literaturnya, ternyata tak banyak yang mengerjakan. Publikasi kelomang dari Indonesia waktu itu hanya ada satu pada tahun 1937. Saya pikir, ini kesempatan saya untuk mengerjakan dan ternyata menarik. Akhirnya saya ambil.
Apa sih gunanya menekuni kelomang? Mengapa bisa begitu bersemangat?
Ilmu itu too luxurious di Indonesia. Setiap kali saya menemukan spesies baru, saya selalu berpikir bahwa ada yang mengatur hidup ini, dia Tuhan. Saya selalu berkata dalam hati, "Ya Allah, kau tunjukkan kepadaku sesuatu yang baru." Saya menemukan makna dari apa yang saya kerjakan. Jika ada yang bertanya untuk apa menekuni taksonomi kelomang, saya berkata, taksonomi itu science for science. Taksonomi menunjang perkembangan science selanjutnya. Jadi kita tidak bisa mengetahui secara langsung manfaat suatu spesies begitu dia ditemukan. ada prosesnya dulu.
Apa peran kelomang dalam kehidupan kita?
Kelomang itu memakan semuanya. Perannya dalam ekosistem, kalau dalam bahasa Jawa, adalah resik-resik, bersih-bersih. Kita tidak secara langsung akan melihat dia bersih-bersih, tetapi kita bisa mengetahuinya lewat penelitian. Di mana ada kelomang? Kita bisa tahu kalau misalnya ada intrusi air tawar, maka di sanalah kelomang ada. Kelomang hidup pada dasarnya dari daerah intertidal hingga laut pada kedalaman 2.000 meter.
Ada berapa spesies kelomang? Berapa yang sudah Anda temukan?
Di dunia kurang lebih ada 1.600 spesies kelomang yang sudah terdata. Yang di Indonesia, hanya di daerah intertidal saja, saya sudah mendata sekitar 160 spesies. Kalau di total dengan yang ada di lautan, mungkin saat ini sudah ada 180-200 yang terdata. Yang perlu sekarang adalah mendata yang ada di kedalaman lautan, itu yang belum tereksplorasi dengan baik. Itulah sayangnya, saya tidak menyelam. Rekan saya yang menyelam menemukan banyak spesies kelomang dan bagus-bagus. Setiap kali teman saya menemukan, di Christmast Island misalnya, saya selalu berpikir bahwa spesies ini ada di Indonesia. Jadi ini harus lebih banyak dieksplorasi. Harus ada perhatian lebih, sebab selama ini kan kalau kita menyelam yang diperhatikan hanya koral dan ikan. Kelomang juga harus mulai diperhatikan.
Apa jenis kelomang yang paling mengesankan?
Saya sudah menemukan lebih dari 60 jenis baru. genus baru ada dua. Setiap menemukan spesies selalu exciting. jadi enggak ada yang paling. Dari 2 genus itu, salah satunya, pteropagurus. Dia tinggal di cangkangnya pteropods, sejenis mollusca pelagik, padahal kelomang adalah bentik. Bagaimana bisa tinggal di sana, karena cangkang sangat ringan. Tapi kita sampai sekarang belum tahu bagaimana caranya, apakah pteropod ini mati dan akhirnya kelomang masuk, atau melayang dan kelomang pada fase planktonik occupied. Kita belum tahu.
Anda sudah menemukan genus dan spesies baru. Bagaimana membedakan antara menemukan genus baru dan spesies baru?
Itulah gunanya taksonomi. Pada dasarnya, kalau kita sudah banyak melihat, kita akan tahu mana yang berbeda. Ketika kita menemukan yang baru, kita akan mencocokkan dengan genus atau spesies yang ada. Ini lebih dari sekedar studi literatur, tetapi benar-benar mencocokkan. Itulah makanya kita butuh reference collection, jadi begitu kita menemukan, kita bisa mencocokkan. Kalau berbeda dan tidak ada dalam koleksi yang sudah kita atau orang lain ambil, berarti itu bisa genus atau spesies baru.
Sudahkah dunia mengenal bahwa Indonesia punya banyak spesies kelomang? Bagaimana cara mengenalkannya?
Kalau saya temukan spesies di indonesia, saya akan selalu tuliskan dalam judul publikasi kata "Indonesia". Contohnya, waktu masih konflik Timor Timur dan mereka mau memisahkan diri dari Indonesia, saya menemukan 2 spesies baru. Saya lalu segera mempublikasikan itu, agar nanti bisa ditulis "2 spesies baru dari Dili, Indonesia", sebab setelah itu mungkin sudah tidak bisa. Bagi saya, mengenalkan itu juga bentuk nasionalisme.
Banyak spesies terancam punah. Kalau kelomang ini bagaimana statusnya?
Di Indonesia ga ada masalah. Kalau di Thailand, ada ancaman karena kelomang banyak diperjualbelikan sebagai hewan piaraan. Di Singapura, saking bersihnya pantai, kelomang ikut dibersihkan. Saya pergi ke salah satu pulau di sana, tak ada kelomang satu pun. Di indonesia ada salah satu pengusaha yang ekspor kelomang darat di Bandung. tapi dia budidaya juga, jadi nggak masalah.
Bagaimana menjaga kelomang tetap lestari?
Kelomang itu kan hidupnya tergantung pada adanya mollusca. Kalau mollusca-nya hilang, ya kelomangnya hilang. Jadi kuncinya adalah menjaga kelestarian mollusca. Nah untuk jaga mollusca, jaga lingkungannya. Kita belum tahu apa yang akan terjadi bila tidak ada kelomang. Tapi pasti ada sesuatu yang lain yang akan terjadi, karena kalau salah satu hilang, ya pasti akan berpengaruh, ini ekologi.
Sebagai seorang taksonom yang sudah di area yang sangat spesifik, apakah tidak merasa sepi karena hanya segelintir orang saja yang menekuni?
Hahaha... mungkin kelihatan sepi, karena kecil dan sedikit sekali orangnya, tapi kita punya komunitas sendiri. Saya selalu kontak dengan mereka dan setiap kali bertemu, selalu ada saja yang kita bicarakan. Jadi terlihat sepi karena saya mengerjakan di sini sendiri, tapi di dalam komunitas itu kita bisa apa saja, bisa menggosip juga. Kalau ada satu yang hilang, misalnya tahun lalu ada satu yang meninggal, kita juga merasa kehilangan. Pada dasarnya kita senang dan tidak kesepian, karena bisa berteman dengan orang dari beragam latar belakang.
Kalau keseharian taksonom seperti Anda apa selalu serius? Apada bedanya taksonomo orang lain?
Hidup saya fun. Saya hanya berdua dengan suami saya. Dia juga peneliti, bidang budidaya. Dia mengerti dunia saya. Saya travelling, dia oke saja. Mungkin Tuhan juga punya pemikiran lain karena saya tidak punya anak. Ya akhirnya saya menikmati hidup yang saya punya. Memang saya kadang memaksakan kehendak karena saya pikir kadang anak-anak muda sekarang, kenapa hal-hal kecil saja enggak mau, padahal waktu seusia mereka, saya udah publikasi. Tapi akhirnya saya sadar saya ngerem juga, sangat ngerem. kalau tidak, bisa kabur semua, termasuk orang yang saya bimbing.
Apa benar taksonom sulit mendapat pekerjaan?
Ya kalau fresh graduate, Tapi kalau kita sudah jadi taksonom profesional, pekerjaan itu sampai kita nolak-nolak. Karena memang sudah terlalu banyak.
Kalau ada yang ingin menjadi taksonom, apa step yang harus dijalani agar bisa menjadi taksonom profesional?
Panjang. Saya mulai meneliti tahun 1987, baru publish pertama tahun 1992, lalu publish lagi tahun 1994. Pada publikasi kedua saya baru mendapat surat dari "mbahnya" taksonomi kelomang yang mengucapkan selamat dan menilai pekerjaan saya bagus. Saya waktu itu langsung tangkap kesempatan berkontak dengan dia dan akhirnya kita selalu berdiskusi. Jadi networking juga penting.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah paling tidak menemukan satu, atau jika tidak bisa langsung bekerja dulu dengan senior. publikasi pertama dan kedua saya masih dengan profesor saya, baru setelah itu bisa sendiri. Ini penting, karena kalau tiba-tiba publikasi, pasti orang akan bertanya siapa kita.
Beberapa waktu lalu, dalam acara Kongres dan Seminar Taksonomi Kelautan Indonesia I, Kompas.com sempat berbincang dengannya. Beberapa pertanyaan seputar perjalanan sebagai taksonom kelomang, penemuan yang telah dihasilkan hingga kehidupan pribadi sebagai seorang taksonom sempat dibicarakan. Berikut petikan wawancara Kompas.com.
Bagaimana awalnya bisa tertarik menekuni taksonomi kelomang?
Saya mulai meneliti tahun 1987. Kebetulan saya dulu ikut meneliti dengan profesor saya. Saya melihat kerja yang tekun dan saya suka itu. Lalu secara kebetulan saya mendapat beasiswa di Perancis. Di sana, saya pergi ke museum dimana profesor saya dulu ambil studi untuk disertasinya. Waktu itu saya mau taksonomi udang, tapi di sana ternyata enggak ada. Lalu saya ditawari untuk mempelajari kelomang.
| Kelomang (hermit crab) |
Saya pikir waktu itu, apa sih bagusnya kelomang, apa gunanya. Lalu saya diberi kelomang yang masih fresh dan saya lihat, it's not bad. Cantik juga. Saya lalu mulai lihat literaturnya, ternyata tak banyak yang mengerjakan. Publikasi kelomang dari Indonesia waktu itu hanya ada satu pada tahun 1937. Saya pikir, ini kesempatan saya untuk mengerjakan dan ternyata menarik. Akhirnya saya ambil.
Apa sih gunanya menekuni kelomang? Mengapa bisa begitu bersemangat?
Ilmu itu too luxurious di Indonesia. Setiap kali saya menemukan spesies baru, saya selalu berpikir bahwa ada yang mengatur hidup ini, dia Tuhan. Saya selalu berkata dalam hati, "Ya Allah, kau tunjukkan kepadaku sesuatu yang baru." Saya menemukan makna dari apa yang saya kerjakan. Jika ada yang bertanya untuk apa menekuni taksonomi kelomang, saya berkata, taksonomi itu science for science. Taksonomi menunjang perkembangan science selanjutnya. Jadi kita tidak bisa mengetahui secara langsung manfaat suatu spesies begitu dia ditemukan. ada prosesnya dulu.
Apa peran kelomang dalam kehidupan kita?
Kelomang itu memakan semuanya. Perannya dalam ekosistem, kalau dalam bahasa Jawa, adalah resik-resik, bersih-bersih. Kita tidak secara langsung akan melihat dia bersih-bersih, tetapi kita bisa mengetahuinya lewat penelitian. Di mana ada kelomang? Kita bisa tahu kalau misalnya ada intrusi air tawar, maka di sanalah kelomang ada. Kelomang hidup pada dasarnya dari daerah intertidal hingga laut pada kedalaman 2.000 meter.
Ada berapa spesies kelomang? Berapa yang sudah Anda temukan?
Di dunia kurang lebih ada 1.600 spesies kelomang yang sudah terdata. Yang di Indonesia, hanya di daerah intertidal saja, saya sudah mendata sekitar 160 spesies. Kalau di total dengan yang ada di lautan, mungkin saat ini sudah ada 180-200 yang terdata. Yang perlu sekarang adalah mendata yang ada di kedalaman lautan, itu yang belum tereksplorasi dengan baik. Itulah sayangnya, saya tidak menyelam. Rekan saya yang menyelam menemukan banyak spesies kelomang dan bagus-bagus. Setiap kali teman saya menemukan, di Christmast Island misalnya, saya selalu berpikir bahwa spesies ini ada di Indonesia. Jadi ini harus lebih banyak dieksplorasi. Harus ada perhatian lebih, sebab selama ini kan kalau kita menyelam yang diperhatikan hanya koral dan ikan. Kelomang juga harus mulai diperhatikan.
Apa jenis kelomang yang paling mengesankan?
Saya sudah menemukan lebih dari 60 jenis baru. genus baru ada dua. Setiap menemukan spesies selalu exciting. jadi enggak ada yang paling. Dari 2 genus itu, salah satunya, pteropagurus. Dia tinggal di cangkangnya pteropods, sejenis mollusca pelagik, padahal kelomang adalah bentik. Bagaimana bisa tinggal di sana, karena cangkang sangat ringan. Tapi kita sampai sekarang belum tahu bagaimana caranya, apakah pteropod ini mati dan akhirnya kelomang masuk, atau melayang dan kelomang pada fase planktonik occupied. Kita belum tahu.
Anda sudah menemukan genus dan spesies baru. Bagaimana membedakan antara menemukan genus baru dan spesies baru?
Itulah gunanya taksonomi. Pada dasarnya, kalau kita sudah banyak melihat, kita akan tahu mana yang berbeda. Ketika kita menemukan yang baru, kita akan mencocokkan dengan genus atau spesies yang ada. Ini lebih dari sekedar studi literatur, tetapi benar-benar mencocokkan. Itulah makanya kita butuh reference collection, jadi begitu kita menemukan, kita bisa mencocokkan. Kalau berbeda dan tidak ada dalam koleksi yang sudah kita atau orang lain ambil, berarti itu bisa genus atau spesies baru.
Sudahkah dunia mengenal bahwa Indonesia punya banyak spesies kelomang? Bagaimana cara mengenalkannya?
Kalau saya temukan spesies di indonesia, saya akan selalu tuliskan dalam judul publikasi kata "Indonesia". Contohnya, waktu masih konflik Timor Timur dan mereka mau memisahkan diri dari Indonesia, saya menemukan 2 spesies baru. Saya lalu segera mempublikasikan itu, agar nanti bisa ditulis "2 spesies baru dari Dili, Indonesia", sebab setelah itu mungkin sudah tidak bisa. Bagi saya, mengenalkan itu juga bentuk nasionalisme.
Banyak spesies terancam punah. Kalau kelomang ini bagaimana statusnya?
Di Indonesia ga ada masalah. Kalau di Thailand, ada ancaman karena kelomang banyak diperjualbelikan sebagai hewan piaraan. Di Singapura, saking bersihnya pantai, kelomang ikut dibersihkan. Saya pergi ke salah satu pulau di sana, tak ada kelomang satu pun. Di indonesia ada salah satu pengusaha yang ekspor kelomang darat di Bandung. tapi dia budidaya juga, jadi nggak masalah.
Bagaimana menjaga kelomang tetap lestari?
Kelomang itu kan hidupnya tergantung pada adanya mollusca. Kalau mollusca-nya hilang, ya kelomangnya hilang. Jadi kuncinya adalah menjaga kelestarian mollusca. Nah untuk jaga mollusca, jaga lingkungannya. Kita belum tahu apa yang akan terjadi bila tidak ada kelomang. Tapi pasti ada sesuatu yang lain yang akan terjadi, karena kalau salah satu hilang, ya pasti akan berpengaruh, ini ekologi.
Sebagai seorang taksonom yang sudah di area yang sangat spesifik, apakah tidak merasa sepi karena hanya segelintir orang saja yang menekuni?
Hahaha... mungkin kelihatan sepi, karena kecil dan sedikit sekali orangnya, tapi kita punya komunitas sendiri. Saya selalu kontak dengan mereka dan setiap kali bertemu, selalu ada saja yang kita bicarakan. Jadi terlihat sepi karena saya mengerjakan di sini sendiri, tapi di dalam komunitas itu kita bisa apa saja, bisa menggosip juga. Kalau ada satu yang hilang, misalnya tahun lalu ada satu yang meninggal, kita juga merasa kehilangan. Pada dasarnya kita senang dan tidak kesepian, karena bisa berteman dengan orang dari beragam latar belakang.
Kalau keseharian taksonom seperti Anda apa selalu serius? Apada bedanya taksonomo orang lain?
Hidup saya fun. Saya hanya berdua dengan suami saya. Dia juga peneliti, bidang budidaya. Dia mengerti dunia saya. Saya travelling, dia oke saja. Mungkin Tuhan juga punya pemikiran lain karena saya tidak punya anak. Ya akhirnya saya menikmati hidup yang saya punya. Memang saya kadang memaksakan kehendak karena saya pikir kadang anak-anak muda sekarang, kenapa hal-hal kecil saja enggak mau, padahal waktu seusia mereka, saya udah publikasi. Tapi akhirnya saya sadar saya ngerem juga, sangat ngerem. kalau tidak, bisa kabur semua, termasuk orang yang saya bimbing.
Apa benar taksonom sulit mendapat pekerjaan?
Ya kalau fresh graduate, Tapi kalau kita sudah jadi taksonom profesional, pekerjaan itu sampai kita nolak-nolak. Karena memang sudah terlalu banyak.
Kalau ada yang ingin menjadi taksonom, apa step yang harus dijalani agar bisa menjadi taksonom profesional?
Panjang. Saya mulai meneliti tahun 1987, baru publish pertama tahun 1992, lalu publish lagi tahun 1994. Pada publikasi kedua saya baru mendapat surat dari "mbahnya" taksonomi kelomang yang mengucapkan selamat dan menilai pekerjaan saya bagus. Saya waktu itu langsung tangkap kesempatan berkontak dengan dia dan akhirnya kita selalu berdiskusi. Jadi networking juga penting.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah paling tidak menemukan satu, atau jika tidak bisa langsung bekerja dulu dengan senior. publikasi pertama dan kedua saya masih dengan profesor saya, baru setelah itu bisa sendiri. Ini penting, karena kalau tiba-tiba publikasi, pasti orang akan bertanya siapa kita.
Sumber : Kompas.com
Jakarta, Bandung, Surabaya Sudah Tak Nyaman Huni
![]() |
| Pemukiman Kumuh di Sepanjang Rel KA |
Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Suharso Monoarfa menilai, kota Jakarta, Bandung, dan Surabaya saat ini tidak nyaman dihuni. Ketiga kota ini memiliki tingkat kepadatan penduduk sangat tinggi, serta tata ruang kota dan sarana transportasi yang buruk.
"Setiap kota di Indonesia harusnya mengantisipasi batas ambang (carrying capacity) penduduk yang ada agar lebih nyaman dihuni oleh masyarakat. Beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya sudah terlalu padat," kata Suharso dalam sambutannya pada seminar nasional Habitat 2011 "Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman yang Responsif Terhadap Perubahan Iklim" di Jakarta, Rabu (5/10/2011).
Suharso mengatakan, kepadatan kota serta kekhawatiran terjadinya ledakan penduduk di kota-kota besar merupakan masalah yang akan selalu dihadapi setiap kota didunia. Untuk mengantisipasi hal ini, diperlukan suatu satuan kawasan wilayah (SKW) dengan perencanaan matang, agar bisa digunakan untuk mencegah semrawutnya penataan sebuah kota di masa mendatang.
"Diperkirakan di kawasan Asia akan terjadi ledakan penduduk di perkotaan sekitar 62 persen, dengan pertambahan penduduk di kota besar naik sekitar 55 persen. Apabila kota-kota di Indonesia tidak melakukan antisipasi sejak dini, maka yang terjadi kota-kota besar akan semakin padat lagi,” ujarnya.
Salah satu kunci untuk mengatasi hal tersebut, lanjut Suharso, setiap penguasa atau kepala daerah harus memiliki pengetahuan cukup mengenai tata ruang serta teknologi, agar masyarakat bisa menikmati hasil pembangunan yang ada. Jangan sampai penguasa kota dan para pemangku kepentingan, khususnya di sektor perumahan dan kawasan permukiman, mementingkan kepentingannya sendiri dengan melakukan kompromi dalam setiap perijinan pembangunan.
"Jika hal ini diselesaikan segera, maka saya yakin 10 tahun mendatang isu mengenai kepadatan dan kesemrawutan kota di Indonesia tidak akan terulang lagi," katanya.
"Setiap kota di Indonesia harusnya mengantisipasi batas ambang (carrying capacity) penduduk yang ada agar lebih nyaman dihuni oleh masyarakat. Beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya sudah terlalu padat," kata Suharso dalam sambutannya pada seminar nasional Habitat 2011 "Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman yang Responsif Terhadap Perubahan Iklim" di Jakarta, Rabu (5/10/2011).
Suharso mengatakan, kepadatan kota serta kekhawatiran terjadinya ledakan penduduk di kota-kota besar merupakan masalah yang akan selalu dihadapi setiap kota didunia. Untuk mengantisipasi hal ini, diperlukan suatu satuan kawasan wilayah (SKW) dengan perencanaan matang, agar bisa digunakan untuk mencegah semrawutnya penataan sebuah kota di masa mendatang.
"Diperkirakan di kawasan Asia akan terjadi ledakan penduduk di perkotaan sekitar 62 persen, dengan pertambahan penduduk di kota besar naik sekitar 55 persen. Apabila kota-kota di Indonesia tidak melakukan antisipasi sejak dini, maka yang terjadi kota-kota besar akan semakin padat lagi,” ujarnya.
Salah satu kunci untuk mengatasi hal tersebut, lanjut Suharso, setiap penguasa atau kepala daerah harus memiliki pengetahuan cukup mengenai tata ruang serta teknologi, agar masyarakat bisa menikmati hasil pembangunan yang ada. Jangan sampai penguasa kota dan para pemangku kepentingan, khususnya di sektor perumahan dan kawasan permukiman, mementingkan kepentingannya sendiri dengan melakukan kompromi dalam setiap perijinan pembangunan.
"Jika hal ini diselesaikan segera, maka saya yakin 10 tahun mendatang isu mengenai kepadatan dan kesemrawutan kota di Indonesia tidak akan terulang lagi," katanya.
Sumber : Kompas.com
Perawatan Gigi Sang Raja Hutan
Diposting oleh
Anak Pantai
di
Kamis, Oktober 06, 2011
Label:
Animals,
Fauna,
Mamalia,
Singa
0
komentar
Melakukan perawatan gigi terhadap manusia mungkin pekerjaan biasa. Namun bagaimana jika yang diperiksa adalah gigi seekor singa? Hal inilah yang dilakukan sejumlah dokter dan perawat di sebuah klinik hewan di Medellin, Kolombia, Kamis (15/9). Butuh sejumlah tenaga medis untuk merawat gigi raja hutan bernama Tyson tersebut. Singa berusia 20 tahun ini kesehariannya tinggal di Kebun Binatang Santafe di Medellin. (Foto: REUTERS/ Albeiro Lopera)
Perawatan Gigi Sang Raja Hutan
Seekor singa jantan bernama Tyson mendapat perawatan gigi di klinik hewan di Medellin, Kolombia, Kamis (15/9). Foto: REUTERS/ Albeiro Lopera.Perawatan Gigi Sang Raja Hutan
Seekor singa jantan bernama Tyson mendapat perawatan gigi di klinik hewan di Medellin, Kolombia, Kamis (15/9). Foto: REUTERS/ Albeiro Lopera .Perawatan Gigi Sang Raja Hutan
TSeekor singa jantan bernama Tyson mendapat perawatan gigi di klinik hewan di Medellin, Kolombia, Kamis (15/9). Foto: REUTERS/ Albeiro Lopera .Hitung-hitungan JK, Pulau Komodo Menang
Diposting oleh
Anak Pantai
di
Kamis, Oktober 06, 2011
Label:
Animals,
Fauna,
Komodo,
Reptil
0
komentar
| Komodo (Varanus Komodoensis) |
Sempat bertengger diposisi ke-4, Pulau Komodo kini berada jauh merosot di posisi ke-12. Bagaimana nasib Pulau Komodo? Apakah Pulau Komodo akan menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia? Semua tergantung dukungan. Utamanya dukungan dari masyarakat Indonesia sendiri.
Waktu yang hanya menyisakan sedikit itu, Muhammad Jusuf Kalla yang didaulat menjadi duta komodo, masih optimitistis pulau eksotis yang menyimpan banyak binatang purba itu menjadi satu dari 7 keajaiban dunia.
Bukan tanpa alasan. Mantan Wakil Presiden ini memberi logika sederhana. "Peluangnya masih besar. Ini kan masih butuh sekitar 100 juta sms. Penduduk Indonesia yang punya handphone sekitar 150 juta. Masih ada 40 hari lagi. Jadi cukup 25 juta orang saja yang sms satu minggunya, bertebaran langsung satu miliar," ungkap JK dalam kunjungan pertamanya ke Pulau Komodo, setelah didaulat menjadi duta Komodo, Selasa 4 Oktober 2011.
Dibandingkan negara peserta lain, Indonesia memang salah satu negara yang memiliki penduduk terbesar, selain Amerika Serikat dan China. Ditambah kepemilikan telepon seluler masyarakat Indonesia makin meluas.
Tak hanya pejabat, eksekutif atau kalangan menengah keatas. Telepon seluler sudah merambah hingga kalangan bawah. Sebut saja tukang becak, tukang sayur mayur. Bahkan, anak sekolah di pedesaan, bukan sesuatu yang mewah memiliki telepon seluler.
Untuk itu, JK berharap, seluruh rakyat Indonesia dapat mendukung Pulau Komodo sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia. "Caranya, ketik Komodo, kirim ke 9818. Vote Komodo, vote Indonesia," ucap JK saat mengajak ratusan masyarakat Manggarai Barat yang mengiringi kunjungannya ke Pulau Komodo, kemarin.
Kampanye untuk Pulau Komodo juga dinilai perlu mendapat dukungan dari pejabat dan tokoh masyarakat. Dia mencontohkan pada beberapa negara lain yang justru kepala negaranya langsung turun tangan untuk mengkampanyekan cagar alam unggulannya.
"Di Afrika Selatan, presidennya yang membawa-bawa duta besarnya ke situ. Presidennya yang langsung mengiklankan. Presiden Korea ikut turun langsung. Presiden Filipina ikut, presiden Kamboja ikut, semua ikut," tuturnya.
Lalu, bagaimana dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono? Apakah Presiden SBY juga harus ikut mengkampanyekan? "Iya. Nanti setelah pulang dari sini (diajak)," katanya.
Pulau Komodo tidak sendirian. Dari situs resmi New7Wonders, pada satu minggu terakhir ini, sejumlah jagoan dari negara lain yang diturutsertakan dalam ajang bergengsi itu, juga mengalami penurunan. Diantaranya, Laut Mati (Israel, Yordania, Palestina) Grand Canyon (AS), Great Barrier Reef (Australia), Pulau Maldives (Maldives), dan Kilimanjaro (Tanzania). Perolehan suara Halong Bay (Vietnam), Pulau Bu Tinah (Arab Saudi), dan Jeju Island (Korsel) masih lebih baik, meski suara mereka stagnan.
Sementara, sejumlah finalis lain memiliki tren dukungan yang terus meningkat. Misalnya, Hutan Amazon di Amerika Latin, air terjun 'Angel Falls' jagoan Venezuela, Bay of Fundy dari Kanada, Black Forest yang dibanggakan Jerman, juga Yushan yang diajukan Taiwan. Tentu, peningkatan sejumlah finalis bukti dukungan nyata dari seluruh masyarakatnya.
Dimasa genting inilah yang menginspirasi Pendukung Pemenangan Pulau Komodo untuk memilih mantan wakil presiden itu sebagai duta Komodo. Gaya kepemimpinan JK diharapkan dapat menimbulkan nasionalisme rakyat Indonesia untuk mendongkrak perolehan suara Pulau Komodo hingga keputusan final penyelenggara.
"Karena Pak JK saat ini orang bebas, tidak ada konflik kepentingan," ujar Ketua Badan Pengurus Perkumpulan Alam Lestari, Emmy Hafild.
Selain JK, Emmy yang menjabat ketua Pendukung Pemenangan Pulau Komodo mengatakan, pihaknya terus mengajak sejumlah tokoh masyarakat untuk andil dalam mengkampanyekan pulau Komodo menjadi satu keajaiban dunia. Dalam kunjungan JK ke Pulau Komodo, selain istrinya, Mufidah Jusuf Kalla, terlihat juga Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi, tokoh muda Nahdlatul Ulama Ipang Wahid, dan tentunya sejumlah pejabat di NTT.
Emmy mengaku, dalam waktu yang singkat ini, pihaknya hanya bisa mengajak seluruh pihak melalui dunia maya atau mengajak masyarakat untuk memberikan suaranya untuk Pulau Komodo melalui sms. "Karena biayanya murah," imbuhnya.
Mengapa banyak negara yang gencar mengikutsertakan cagar alamnya sebagai 7 keajaiban dunia? Salah satunya akan menghasilkan nilai ekonomis yang luar biasa besar.
JK mengungkapkan, kawasan Taman Nasional Komodo bisa menjadi Bali kedua dan mendatangkan lebih banyak wisatawan dari dalam negeri maupun luar negeri. Namun, dengan catatan, jika Pulau Komodo menjadi satu dari 7 keajaiban dunia. "Ini satu momen. Seluruh dunia bisa tahu," katanya.
Bukan hanya hewan langkanya yakni, Komodo (Varanus komodoensis) yang menjadi andalan untuk para wisatawan dalam menikmati liburannya di tanah Flores, NTT. Banyak hewan lain yang bisa ditemukan di Taman Nasional Komodo. Rusa Timor, kerbau liar, babi hutan, monyet ekor panjang, burung Kakatua-kecil jambul-kuning, burung Gosong dan banyak hewan liar lainnya.
Perairan Taman Nasional Komodo juga menawarkan pemandangan dalam laut yang eksotis. Terletak di daerah tropis, memperoleh cukup sinar matahari dengan arus yang kuat dan sedimentasi rendah menyediakan banyak plankton dan oksigen yang dibutuhkan oleh terumbu karang dan biota laut lainnya.
Lebih dari 1000 jenis ikan, 380 jenis karang dan 8 jenis lamun menjadi satu kekayaan bawah laut Taman Nasional Komodo. Duyung, hiu-paus, pari, penyu, ikan Napoleon, kima dan triton trompet juga dapat dijumpai dikawasan ini.
Sumber : VIVAnews
Langganan:
Postingan (Atom)









